Nulis itu bagaikan ngomong

Judul ini mungkin tidak mutu. Tapi mau bagaimana lagi, wong kadang memadukan antara otak dan tangan, atau otak dan mulut, sulitnya minta ampun.

Ada orang bisa lancar memadukan antara otak dan tangan, maka jadilah ia penulis terkenal. Karena tangannya dengan cepat bisa menerjemahkan otak melalui syaraf-syaraf yang kemudian menggerakkan ujung jari untuk menghentak huruf-huruf di keyboard. Di sisi lain, ada orang yang lidahnya sangat cepat menangkap kiriman data dari otak untuk kemudian diolah menjadi kata-kata indah lewat suaranya. Nah, yang terakhir ini adalah seorang penceramah atau seminaris yang hebat.

Itu pula yang dirasakan sebagian besar orang yang ingin belajar menulis. Banyak peserta pelatihan menulis bingung. Padahal mereka orang-orang pandai. Karena tak jarang yang ikut pelatihan itu sebangsa dosen atau guru. Tapi, saat dihadapkan pada materi belajar menulis, susahnya minta ampun.

Alasannya ada saja. Misalnya, sulit menggali idenya, memulai menulisnya, dan tak bisa meneruskan jika berhenti di tengah jalan. Persis seperti saat belajar khitobah (ceramah) di pondok dulu.

Benar, sama persis. Awalnya tak tahu ide yang akan diceramahkan itu apa. Kemudian memulai bicara dari kata apa juga harus tolah-toleh (tengok kanan kiri). Pernah juga saat di tengah khitobah terdiam, tidak bisa melanjutkan.

Nah, ternyata prosesnya sama. Kesulitannya juga sama. Tapi, apa keduanya bisa dipadukan? Rasa-rasanya kok bisa. Antara menulis dan bicara (ngomong) seharusnya menjadi satu kesatuan. Memang antara mulut dan tangan kadang hanya bisa bersatu saat makan. Tapi, untuk urusan menulis dan ngomong, pusatnya sama saja, otak. Jika menulis kemudian dibaca, jadilah omongan alias ceramah. Kalau omongan (ceramah) ditulis, jadilah ia tulisan. Sama saja kan.

Itulah keunikan tubuh manusia. Kadang sulit mempersatukan untuk diajak kerja bareng. Ya, seperti saat kita ditanya; Enak mana zaman Presiden Soeharto dan Presiden SBY, maka jawabnya enak zaman Pak Harto. Kenapa? Karena saat itu istri kita masih muda sehingga spirit kerja kita sangat tinggi.

Eit… kebablasan. Maaf. Karena tulisan ini sebenarnya juga dari pembicaraan yang direkam, kemudian ditulis dalam bentuk aslinya. Ini juga untuk membuktikan kalau menulis itu sama dengan ngomong.
(Oleh Khoirul Anwar / war_jepe@yahoo.co.id)

1 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    permanas berkata,

    hehehe… kalau aku sih, misalnya mentok sama satu tulisan, aku malah diemin sebentar untuk kemudian menulis yang lain lagi, kalau tulisan lain untuk mendiamkan tulisan sebelumnya juga ikut-ikutan mentok, ya, hehehe, aku nulis yang lain lagi, kalau semuanya mentok, aku ambil diaryku dan menuliskan kekesalanku karena kementokan itu. lha, kalau nulis diary juga ikut-ikutan mentok, walah! kayaknya aku malah mentokin kepala aku nih, hehehe… becanda, kawanku, becanda… hikhikhik, mungkin aku akan baca buku atau pergi keluar untuk mencari udara segar yang bisa membarukan pikiran.


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda